J U J U R

jujur

Jujur atau benar, ialah: ‘Memberitahukan menuturkan sesuatu dengan sebenarnya.’ Lawannya ialah dusta, yaitu memberitakan sesuatu berlainan dengan sebenarnya, walaupun dengan tidak disengaja.

Allah SWT menciptakan bumi dan langit beserta isisnya dengan benar dan Allah memerintahkan manusia membangun kehidupan mereka dengan benar pula. Mereka tidak diperkenankan berkata dan berbuat sekehendak hatinya, kecuali dilakukannya diatas kebenaran.

Kelalaian manusia dari prinsip yang sudah jelas ini mengakibatkan timbulnya kekecewaan dan kecelakaan serta merajalelanya kebohongan, kepalsual dan khayalan yang menjauhkan mereka dari jalan yang benar, sehingga mereka mengasingkan diri dari kenyataan yang obyektif yang harus mereka ikuti.

Oleh karena itu manusia dituntut berpegang kepada kejujuran dengan memperhatikan prinsip kebenaran pada setiap problem yang dihadapinya dan dilaksanakan diatas hukum yang benar. dan yang demikian merupakan ‘Tiang yang Kokoh’ menurut akhlak Islam.

Rasulullah saw telah bersabda:

‘Orang mukmin (pada dasarnya) diberi semua watak dan sifat-sifat, kecuali khianat dan bohong.’ (HR Ahmad)

 

Rasulullah saw ditanya oleh para sahabat sebagai berikut:

‘Apakah ada orang mukmin yang pengecut? Nabi bersabda ‘Ada’ Beliau ditanya lagi: Apakah ada orang mukmin yang kikir? Beliau bersabda: ‘Ada@, Kemudian ditanya lagi Apakah ada orang mukmin yang pembohong? Beliau menjawab ‘Tidak ada'(HR Imam Malik)

 

Islam menganjurkan bahkan menekankan, agar segi-segi dan unsur-unsur kejujuran ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil, agar mereka terbiasa melakukan kejujuran dimanapun berada.

 

Dalam suatu riwayat, Abdullah bin Amir berkata:

‘Pada suatu hari saya dipanggil ibu dan saat itu Rasulullah ada di rumah kami. Ibu berkata: ‘Abdullah mari sini. Aku akan memberi  sesuatu kepadamu, ‘Rasulullah bertanya kepada Ibu: ‘Apa yang ibu akan berikan?’ Ibu berkata: ‘Saya akan memberinya kurma.’ Rasulullah berkata kepada Ibuku: ‘Kalau ibu tidak memberinya sesuatu, maka ibu dicatat melakukan satu (kali) dusta. (HR Abu Dawud)

 

Rasulullah saw bersabda:

‘Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, mari kemari saya beri ini. Kemudian tidak memberi, maka itu bohong.’ (HR Ahmad)

 

Demikianlah Rasulullah mendidik kaum ibu dan kaum bapak untuk mendidik anak-anak mereka, sehingga anak-anak mereka menghormati kejujuran dan menjauhkan diri dari berbuat dusta. Andaikata Rasulullah menganggap hal ini sebagai urusan yang ‘remeh’ maka dikhawatirkan  anak-anak kalau sudah dewasa menganggap perbuatan berdusta sebagi dosa kecil, padahal di sisi Allah adalah dosa besar

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s