SIFAT LAPANG DADA PADA ANAK

ortu baik

Salah satu akhlak terpuji yang akan memberikan jalan kebaikan bagi jiwa untuk sampai kepada puncaknya, adalah sifat lapang dada dan tidak dengki serta mudah untuk memaafkan orang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“

Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil“. QS. Al-A’râf (7): 199.

Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا“

“Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ`, “Betapa pentingnya seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain dan tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dalam meredam kejahatan orang lain melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyulut kejahatan, melebihi melakukan kejahatan serupa”.

Sikap lapang dada juga akan mewujudkan keseimbangan jiwa dan membiasakannya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan,

“لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian; hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

Mulai dari Orang Tua

Untuk menanamkan sifat mulia ini pada anak, tentu harus dimulai dari diri orang tua selaku contoh bagi mereka. Janganlah orang tua enggan mengucapkan kata maaf ketika bersalah dan memaafkan jika anak berbuat salah.

Lalu bimbinglah anak agar membersihkan hati dari sifat iri dan dengki kepada sesama, terlebih kepada saudara sendiri. Saat Anda pergi dengan si kakak dan mampir ke suatu toko, sampaikan kepadanya untuk membelikan jajan buat adiknya. Begitu pula sebaliknya ketika adik sedang makan sesuatu, ingatkan dia agar jangan lupa membagi untuk sang kakak.

Satu hal juga yang harus diwaspadai oleh para orang tua adalah dalam hal pemberian kepada anak-anaknya. Orang tua harus bersikap adil. Dalam arti jika salah satu anak diberi hadiah, maka yang lainnya pun perlu untuk diberi pula. Walaupun tidak mesti harus sama bentuk dan nominalnya. Sebab jika tidak adil maka hal itu akan menimbulkan kecemburuan antar saudara.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rabi’ul Tsani 1436 / 16 Februari 2015

* Diringkas dan disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 109) dan berbagai sumber lainnya.

# sumber: website tunas ilmu

— with Dina Yulia Fitri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s